Muslim Myanmar Dijadikan Tumbal, Tentara Myanmar Perkosa 100 Perempuan

Muslim Myanmar Dijadikan Tumbal, Tentara Myanmar Perkosa 100 Perempuan
Pemerintah Myanmar (dulu Burma) melancarkan “kampanye pemusnahan etnis” terhadap warga muslim Rohingya.
Tentara Myanmar Perkosa 100 Perempuan
Mengapa Myanmar punya nyali besar untuk menghadapi tekanan internasional?

Sebab, Myanmar dibekingi oleh ‘’Blok Cina’’ yakni Cina, Rusia, India, Korea Selatan, Thailand, Laos, dan Vietnam serta Singapura. Blok Cina ini berkepentingan mengakses gas bumi di Shwe (emas) Blok A1-Teluk Bengal. Sumur energi alam itu konon diperkirakan mengandung deposit gas hingga 5,6 triliun kubik yang tidak akan habis dieksploitasi hingga 30-an tahun.

Sengitnya permusuhan terhadap Islam itu sangat menyakitkan bagi Umat Islam sedunia. Karena nyawa orang Muslim itu lebih berharga dibanding dunia seisinya.

Darah orang Islam itu haram. Bagaimanapun, dibunuhnya seorang Muslim tanpa haq adalah perkara yang sangat berat. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan dahsyatnya siksa bagi pembunuh orang mu’min dengan sengaja:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا [النساء : 93]
93. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS AN-NISAA’/4: 93)

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS Al-Maaidah/ 5: 32).

Dalam hadits ditegaskan, lenyapnya dunia ini masih lebih ringan dibanding dibunuhnya seorang Muslim tanpa haq. Namun kenyataannya, tahun 2012 saja Muslim Rohingya yang dibantai Myanmar lebih dari 6000 jiwa. Disamping itu di Suriyah, Bashar Assad di Suriah telah membunuh 220 ribuan Umat Islam, sedang Jendral Al-Sisi di Mesir membunuh 2000 lebih penduduk Muslim. Padahal dalam Islam, ancamannya sangat keras mengenai dibunuhnya orang Islam itu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ
Sungguh lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim. ( HR. AN-NASA-I (VII/82), dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi (no. 1395). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan an-Nasa-i dan lihat Ghaayatul Maraam fii Takhriij Ahaadiitsil Halaal wal Haraam (no. 439).

Inilah beritanya.

***

Dari Diskusi Kramat 45: Muslim Myanmar Jadi Tumbal Pertarungan AS-China
14 Januari 2014

Fiqhislam.com - ‘’Bukan hanya Rohingya, tapi Muslim Myanmar semua etnis kini jadi korban,’’ ungkap Heri Aryanto tentang derita warga Muslim Myanmar. ‘’Jadi pangkal persoalan pengungsi Muslim Myanmar ini adalah kebijakan pemerintah negara itu sendiri,’’ lanjut Direktur Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya Arakan (Piara) itu.

Heri mengemukakan hal tersebut dalam diskusi tentang nasib pengungsi Myanmar di Gedung Dewan Dakwah Jakarta Pusat, Rabu, 8 Januari 2013.

Diskusi juga dihadiri Presiden Seahum (South East Asia Humanitarian) Agung Notowiguno, Ketua Forum Umat Islam (FUI) Sumatera Utara Sudirman Timsar Zubil, Sekretaris Forum Mantan Aktivis Lembaga Dakwah Kampus Jabodetabek Nurbowo, sejumlah pengurus Pusat Advokasi Hukum dan HAM (Paham), PKPU (Pos Kemanusiaan Peduli Umat), dan Lembaga Amil Zakat, Infak, Sedekah (LAZIS) Dewan Dakwah.

Bertindak sebagai tuan rumah adalah Ustadz Ade Salamun, Direktur Eksekutif LAZIS Dewan Dakwah.

Seperti dilansir kantor berita AFP (22/4/2013), Human Rights Watch menilai Pemerintah Myanmar (dulu Burma) melancarkan “kampanye pemusnahan etnis” terhadap warga muslim Rohingya. Organisasi HAM yang berbasis di New York, Amerika Serikat, itu mengemukakan bukti berupa temuan banyaknya kuburan massal warga Rohingya dan warga Muslim yang kehilangan tempat tinggal.

Muslim-cleansing di Myanmar berlangsung secara sistematis. Sejak 1982, Undang-undang Kewarganegaraan Myanmar tak mengakui Muslim Rohingya sebagai warga negara Myanmar. ‘’Padahal warga Muslim sudah tinggal di Myanmar sejak berabad-abad silam,’’ tandas Heri. Pemerintah Myanmar menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh atau keturunannya.

Berdasarkan catatan Myanmar Digest, pada 2005, muncul perintah agar bayi Muslim yang lahir di Sittwe, negara bagian Rakhine (Arakan), haram diberi akta kelahiran.

Penguasa militer (junta) Myanmar, yang dikenal sebagai Dewan Restorasi Pemerintahan dan Hukum Negara (State Law and Order Restoration Council atau SLORC), mempertahankan kekuasaanya dengan menciptakan instabilitas negara. Caranya, selalu memicu konflik rasial dan agama. Tujuannya untuk memecah-belah penduduk sehingga junta tetap menguasai ranah politik dan ekonomi.

Pada 1988, SLORC memprovokasi terjadinya pergolakan anti-Muslim di Taunggyi dan Prome. Lalu pada Mei 1996, karya tulis bernada anti-Muslim yang diyakini ditulis oleh SLORC, tersebar di empat kota di negara bagian Shan. Ini mengakibatkan terjadinya kekerasan terhadap kaum Muslim. Penindasan berlanjut hingga saat ini.

Kaum ekstrimis Buddha juga mengkhawatirkan perkembangan jumlah warga Muslim. Memang, semakin banyak wanita Myanmar yang memilih menjadi mualaf untuk mendapatkan suami Muslim. Sebab, kaum lelaki Myanmar non-Islam pada umumnya tukang mabuk. Sepulang kerja mereka mabuk-mabukan di kedai, lalu pulang ke rumah menyiksa istri dan anaknya.

Tetapi, laki-laki muslim yang menikahi wanita Myanmar, biasanya akan dipukuli warga Buddha. ‘’Bahkan saat ini sedang dibuat UU yang mensyaratkan orang harus memeluk agama Buddha untuk menikahi wanita Myanmar,’’ ungkap Piara dan Seahum berdasarkan hasil investigasi mereka.

Heri menambahkan, sebetulnya perekonomian ibukota Myanmar, Yanggon, dikendalikan saudagar Muslim. Tapi, kini mereka jadi pelarian.

Pada 19 November lalu, PBB menerbitkan resolusi yang mendesak pemerintah Myanmar memberikan status dan hak kewarganegaraan kepada kelompok minoritas Muslim Rohingya.

Resolusi itu juga menyerukan mayoritas Buddha Myanmar untuk mencegah meningkatnya kekerasan terhadap umat Islam, seperti penahanan yang sewenang-wenang, perebutan tanah, pemerkosaan, penyiksaan, dan lain-lain.

Namun, rejim Myanmar menolaknya mentah-mentah. Bahkan mereka menuduh PBB mengusik kedaulatannya dengan resolusi tersebut.

“Kewarganegaraan tidak akan diberikan kepada mereka yang tidak berhak di bawah undang-undang. Tidak peduli siapa pun yang menekan kami. Ini adalah hak kedaulatan kami,” kata juru bicara pemerintah Myanmar, Ye Htut, seperti dilansir World Bulletin(21/11/13).

Pemerintah Myanmar pun tidak takut menghadapi Organisasi Konferensi Islam (OKI). Tatkala Sekjen OKI, Eklemeddin Ihsanoglu, masuk ke Myanmar medio November 2013, ia mendapat sambutan beringas. Ihsanoglu yang memimpin delegasi menteri luar negeri dari 57 anggota OKI, dicegat dengan aksi demo ribuan massa Buddha yang menolak kehadirannya di berbagai daerah di Myanmar.

Mengapa Myanmar punya nyali besar untuk menghadapi tekanan internasional?

Sebab, Myanmar dibekingi oleh ‘’Blok Cina’’ yakni Cina, Rusia, India, Korea Selatan, Thailand, Laos, dan Vietnam serta Singapura. Blok Cina ini berkepentingan mengakses gas bumi di Shwe (emas) Blok A1-Teluk Bengal. Sumur energi alam itu konon diperkirakan mengandung deposit gas hingga 5,6 triliun kubik yang tidak akan habis dieksploitasi hingga 30-an tahun.

Pipanisasi dan pembangunan akses jalan darat untuk ekspoitasi gas bumi itu, melewati kantong-kantong Muslim Myanmar. Maka, junta militer Myanmar berkepentingan untuk mengusir warga Muslim itu.

Kebutuhan arsenal junta militer Myanmar dipenuhi secara royal oleh Cina dan Rusia. Misalnya, pada kurun 1990-an, Cina memasok 100 tank ukuran sedang, 100 light tank, 24 unit pesawat tempur, 250 kendaraan militer, sistem peluncur roket, howitzer, senjata anti pesawat terbang, dan keperluan militer ke Myanmar lainnya.

Empat tahun kemudian, Myanmar memesan lagi kapal perang, helikopter, senjata ringan dan artileri. Hal ini ditambah pengiriman 200 truk militer dan 5 kapal perang baru serta kerjasama program pelatihan militer tahun 2002. Dan tahun 2005, dikirim lagi 400 truk militer untuk melengkapi 1500 truk yang dipesan oleh Myanmar.

Sejak 2001, Departemen Pertahanan dan Departemen Ristek mengirimkan lebih dari 1500 teknisi mengikuti pelatihan di Rusia. Pada tahun 2002, memenuhi pesanan Myanmar 8 unit pesawat MiG-29 B-12 serta pelatih pesawat tempur sewaan senilai US$ 130 juta. Myanmar juga menandatangani program penelitian kapasitas berbasis reaktor nuklir dengan Rusia.

Raksasa Cina, buat Amerika, adalah ancaman serius di Asia Pasifik. Sejumlah dokumen Pentagon menyatakan, persaingan Cina dan AS semakin kuat. Project for The New American Century and Its Implications (PNAC) 2002, memprediksi persaingan AS-Cina akan meruncing pada 2017 serta konfrontasi terbuka mungkin tak bisa dielakkan.

Sedang dokumen National Inteligent Council (NIC) tahun 2004 bertajuk Mapping The Global Future, memuat ramalan David World: “Kebangkitan ekonomi Asia, dengan China dan India bakal menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia”.

Momentum WTC Bombing 11 September 2001, dijadikan AS dan sekutunya untuk meningkatkan militerisasi di Selat Malaka dengan menggandeng angkatan laut India, Australia, Singapura, Jepang, Thailand dan lain-lain. Amerika mengajak mereka latihan perang-perangan, dengan alasan untuk menanggulangi terorisme global.

Setelah menerbitkan resolusi patriasi warga Muslim Rohingya, menurut perkiraan M Arief Pranoto, Research Associate pada Global Future Institute, Amerika kemungkinan akan mendorong PBB menerbitkan Resolusi untuk menghadirkan pasukan asing di Myanmar. Tujuannya, menguasai pipanisasi dan “merebut” kawasan kaya minyak serta gas bumi secara ‘’legal’’ melalui PBB. Selain itu, untuk membendung hegemoni Cina dari perairan terutama melalui pelabuhan Sittwe, Teluk Bengal.

Alhasil, Muslim Myanmar tak lebih dijadikan tumbal dalam pertarungan Cina-Amerika memperebutkan sumberdaya alam dan hegemoni.

Walaupun tantangannya berat, para peserta diskusi sepakat bahwa advokasi nasib Muslim Myanmar di level internasional harus terus dilakukan. ‘’Secara lokal, kita juga harus menolong para pengungsi Muslim di Indonesia semaksimal yang bisa kita lakukan,’’ kata Ustadz Timsar Zubil.

Untuk memasifkan sinergi advokasi itu, insya Allah Dewan Dakwah akan menjadi tuan rumah pertemuan lembaga dan ormas Islam berikutnya. [yy/eramuslim.com]

Tentara Myanmar Perkosa 100 Perempuan

Aktivis perempuan menyebut militer Myanmar masih menggunakan pemerkosaan untuk meneror warga. LSM Liga Perempuan Burma mencatat, terjadi lebih dari 100 pemerkosaan yang dilakukan tentara Myanmar sejak 2010.

Data tersebut bertolak belakang dengan upaya Myanmar melakukan reformasi politik. Pada 2010, pemerintahan Myanmar berganti dari rezim junta militer menjadi demokratis.

“Aksi pemerkosaan yang dilakukan tentara mengikuti sebuah pola. Hal itu menunjukkan pemerkosaaan memang dijadikan seperti senjata,” sebut laporan yang dikeluarkan Liga Perempuan Burma, seperti dikutip Reuters, Selasa (14/1/2014).

LSM tersebut menambahkan, aksi pemerkosaan terjadi di 35 wilayah. Para aktivis khawatir fenomena tersebut tidak terungkap karena korban takut melapor.

“Pemerkosaan digunakan untuk menghancurkan moril kelompok etnis minoritas yang melakukan perlawanan,” lanjut laporan itu. [yy/okezone.com]/fqhislm

***

Berita lawas berikut ini pantas disimak dengan mengelus dada.

***

Korban Pembantaian “Muslim Rohingya” Capai 6000 Jiwa
Posted by KabarNet pada 19/06/2012

BURMA – Kekerasan di desa-desa Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine (Arakan) di Burma (Myanmar), meliputi pembunuhan, penjarahan, pembakaran, penangkapan masih berlangsung. Badan-badan internasional, seperti PBB, masih tak berdaya menghadapi sekelompok etnis Buddha yang didukung pasukan gabungan ‘keamanan’ Rakhine. Ribuan Muslim Rohingya telah gugur akibat dibantai oleh etnis Rakhine secara brutal. Puluhan ribu lainnya menjadi tunawisma dan sedang menderita kelaparan dan pengobatan di Arakan.

Media-media Burma yang pro-Rakhine telah menyebarkan propaganda terkait Muslim Rohingya. Mereka menggambarkan bahwa Muslim Rohingya adalah teroris dan yang membunuh serta membakar rumah-rumah etnis Buddha Arakan. Salah satu bukti bahwa orang-orang etnis Rakhine-lah yang melakukan kekerasan adalah bisa dilihat dari pakaian mereka yang memakai pakaian khas Buddhis atau celana pendek. Perlu diketahui bahwa kebanyakan Muslim Rohingnya, mereka biasa memakai sarung selutut, mungkin sangat jarang yang terlihat memakai celana pendek. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa etnis Buddha menyamar berpakaian seperti Muslim Rohingya, buktinya saja, polisi Burma yang menangkapi para pemuda Rohingya yang kemudian disiksa, mereka diperlengkapi senjata untuk diambil gambar mereka dan disebarkan.

Ribuan lainnya terpaksa melarikan diri ke negeri tetangga, Bangladesh, untuk menyelamatkan diri mereka. Sejumlah Muslim berhasil sampai ke Bangladesh dan berdiam diri di kamp pengungsian Lada, di selatan Bangladesh, yang dioperasikan oleh LSM Muslim Inggris yang menyediakan pengobatan dan bantuan makanan. Namun karena keterbatasan, kamp pengungsian dibangun dengan seadanya bahkan tidak layak. Tak semua Muslim Rohingya dapat tinggal di kamp pengungsian, disebabkan ribuan dari mereka telah diusir oleh otoritas Bangladesh karena dianggap ilegal. Sementara sejumlah Muslim juga ditahan oleh polisi-polisi perbatasan dan bahkan dihukum dijemur di atas pasir pantai yang panas.

Muslim Rohingya baik yang masih tinggal di Arakan dan sedang mengungsi ke negara tetangga, sedang dalam kondisi kritis, butuh pertolongan segera dari dunia internasional. Hingga kini Muslim Rohingya masih hidup dalam ketakutan.

Jumlah kematian Muslim di Arakan capai 6000 jiwa
Kabar pembunuhan, pembakaran, penjarahan, pemerkosaan serta penangkapan Muslim Rohingya di negara bagian Arakan (Rakhine), Burma (Myanmar) masih terdengar. Kekerasan kejam tersebut dilakukan oleh orang-orang kafir Buddha dan pasukan gabungan tentara Burma. Ribuan jiwa Muslim tak bersalah telah gugur (syahid insya Allah) dalam kekerasan yang memuncak akhir-akhir ini.

Berdasarkan laporan dari forum Ansar Al-Mujahidin, para saksi mata dari keluarga korban yang terus berkomunikasi melalui telepon, memperkirakan bahwa jumlah kematian Muslim di Arakan dapat mencapai 6000 jiwa hingga saat ini (innalillahi wa innailaihi roji’uun). Sementara belum ada media yang dapat merinci jumlah spesifik korban, mengingat media-media saat ini hanya menerima laporan dari warga Rohingya di Arakan yang selamat dan masih bisa berkomunikasi. Menurut saksi, jumlah-jumlah yang selama ini dinyatakan hanya mewakili bahwa benar-benar terjadi pembantaian brutal terhadap Muslim di Arakan.

Selain itu dikatakan bahwa para etnis kafir Buddha telah membunuh ratusan orang Rohingya kemudian melemparkan jasad mereka ke teluk Bengal. Untuk menyembunyikan fakta dan menyebarkan propaganda busuk, para penganut Buddha etnis Rakhine itu menempatkan pakaian-pakaian yang biasa dikenakan warga Buddha kepada Muslim yang meninggal dan mengklaim bahwa mereka adalah jasad orang Buddha yang menjadi korban.

Pasukan gabungan Nasaka dan orang-orang Buddha Rakhine juga menangkapi warga-warga Rohingya dari desa-desa mereka yang dapat memimpin penduduk Muslim, kebanyakan pria dewasa atau para pemuda, dibawa ke tempat yang tidak diketahui dan dikabarkan telah tewas tak terlihat oleh penduduk setempat.

Lebih jauh lagi, karena kebanyakan yang dibunuh adalah Muslim laki-laki, sehingga banyak Muslim tinggal di rumah mereka tanpa perlindungan dari laki-laki, dan banyak Muslimah serta anak-anak yang melarikan diri menuju perbatasan Bangladesh, namun ironisnya pasukan ‘keamanan’ perbatasan Bangladesh mengirim kembali perahu-perahu mereka ke Myanmar, sehingga orang-orang kafir Buddha menenggelamkan perahu-perahu kaum Muslimin dan membunuh para penumpangnya.

Sementara puluhan ribu Muslim Rohingya di kota-kota di Arakan sedang menderita kelaparan karena tidak ada pasokan pangan yang cukup, juga karena toko-toko mereka telah dibakar habis, dan mereka juga menderita karena harus menjadi tunawisma karena rumah-rumah mereka ludes terbakar, hanya tinggal di tempat-tempat pengungsian yang sangat buruk kondisinya. Source: Arrahmah.COM

Out Of Topic Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon

Note: only a member of this blog may post a comment.

Thanks for your comment