Kyai NU: ‘Warga NU Yang Tidak Coblos PKB Tidak Akan Masuk Surga’


WARGA Nahdhatul Ulama (NU) yang tidak mencoblos Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tidak akan masuk surga. Pernyataan itu disampaikan oleh KH. Ushfuri Anshor dalam sebuah buku berjudul ‘Belum Terlambat Sebelum Kiamat’ yang diterbitkan Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKB. Di halaman 8 buku tersebut, KH Ushfuri Anshor menulis, “Barang siapa yang tidak mencoblos PKB, partai politik yang didirikan oleh PBNU pada tahun 1998, maka orang NU itu jika wafat dipastikan tidak akan masuk surga.”

Buku kontroversial itu sengaja dibagi-bagikan di Purbalingga, pada Selasa (8/1), di tengah gelaran Silaturahmi NU dan PKB di Gedung PKB, Purbalingga. Pada acara tersebut DPC PKB Purbalingga menyerukan agar warga NU bersatu guna memenangkan PKB pada Pemilu 2014. Di Purbalingga sendiri, partai itu tengah mengincar sembilan kursi DPRD. Saat ini mereka baru memperoleh lima kursi.

Sikap warga NU untuk merapat kepada PKB dinilai wajar. Sebab, menurut Deklarator PKB, Sudarno, posisi NU dan PKB seperti layaknya hubungan antara anak dan ayah. “PKB besar, NU besar. NU besar PKB juga besar,” kata Ketua Dewan Syuro DPC PKB Purbalingga, Supono di hadapan ribuan warga NU di Kota Perwira tersebut. sebagaimana dilaporkan Suara Merdeka. Pendapat senada juga disampaikan Ketua DPC PKB Purbalingga, Slamet Wahidin saat menyampaikan sambutan, “Percayakan perjuangan kepada orang NU,” serunya.

Isi Buku

Buku terbitan DPP PKB berjudul ‘Belum Terlambat Sebelum Kiamat’ itu sebenarnya merupakan buku lama yang pernah diterbitkan pada tahun 2006. Namun oleh DPP PKB, buku itu dicetak dan diterbitkan ulang setelah dilakukan revisi termasuk mengganti kata pengantar yang ditulis oleh Sekretaris Jenderal DPP PKB, H. Imam Nahrawi.

Buku yang ditulis KH. Ushfuri Anshor itu lebih banyak berbicara tentang hujjah-hujjah dan argumen-argumen penulis tentang kewajiban warga Nahdhiyin untuk mencoblos PKB dalam pemilu di Indonesia. KH. Ushfuri secara pribadi sudah pernah menyebarkan tulisannya sejak Pemilu tahun 2004.

Diantara hujjah dan argumen Kyai Ushfuri, ia mengutip pendapat Kyai Mustahdi Abbas yang menafsirkan kata “syibron” dalam hadits Rasulullah SAW dari Ibnu Abbas:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

”Barang siapa melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari penguasanya, maka bersabarlah! Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja, maka ia akan mati dalam keadaan mati jahiliah”. (Muttafaq ‘Alaih)

Menurut penulis buku tersebut, Kyai Mustahdi Abbas menafsirkan kata( شِبْرًا ) dalam hadits tersebut antara lain yaitu, termasuk warga NU yang benar-benar patuh kepada NU-nya tetapi tidak mau memilih PPP pada pemilu waktu itu.

“Saya yakin seandainya KH Mustahdi Abbas sampai sekarang masih hidup, pasti beliau akan berfatwa: Seluruh warga NU wajib pilih PKB, jika tidak maka dosanya tidak diampuni oleh Allah SWT,” tulis KH Ushfuri Anshor.

Lebih jauh KH. Ushfuri berargumen, bahwa warga NU harus taat kepada ulil amri-nya, yaitu induk organisasi yang menaungi warga NU.

“Warga NU, maka wajib bagi mereka taat kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sedangkan PBNU sendiri ditahun 1998 sudah mendirikan PKB, berarti seluruh warga NU wajib mendukung PKB. Kalau tidak mendukung berarti berkhianat!” tulis KH Ushfuri Anshor di halaman 28.

KH. Ushfuri mengatakan bahwa model ketaatan seperti itu juga berlaku bagi warga organisasi tertentu lainnya selain NU. “Mereka juga berkewajiban mendukung partai politik yang didirikan oleh induk organisasi mereka,” tulis KH. Ushfuri.

Dalam buku setebal 44 halaman itu, KH. Ushfuri juga menulis tentang definisi orang-orang yang disebut sebagai warga Nahdhiyin serta perbedaannya dengan warga Muhammadiyah dan Persis.

“NU adalah organisasi yang mengajarkan antara lain: tahlilan, marhabanan dan ziarah kubur disamping syari’at-syari’at Islam sebagai pokoknya. Orang-orang yang selama ini suka mengamalkan amalan itu pasti adalah warga NU (walaupun masih ada diantara mereka yang belum menyadari, atau tidak mengakui bahwa dirinya sudah menjadi warga NU). Sedangkan warga Muhammadiyah dan Persis adalah warga yang kurang suka terhadap amaliah tersebut,” urai KH. Ushfuri pada halaman 31.

Buku ‘Belum Terlambat Sebelum Kiamat’ setebal 44 halaman itu bisa di-unduh di situs DPP PKB karena sengaja dipublikasikan untuk kalangan luas.(fq/islampos/annajah)

Out Of Topic Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon

Note: only a member of this blog may post a comment.

Thanks for your comment